Alternatif Sistem Pemilu


PEMILU, PILKADA DAN ALTERNATIF TEKNOLOGI PEMUNGUTAN SUARA
Oleh: Rudiat Komara, SIP, M.COM
Pemilihan Umum sudah usai, pemenang dari perhelatan akbar pun sudah diketahui dan sudah menjalankan tugasnya untuk beberapa bulan ini. Selanjutnya kita sudah mulai beralih ke tingkat lokal dengan akan diadakanya Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. Sama dengan pemilihan umum yang bertujuan untuk memilih wakil rakyat yang akan duduk di DPR, presiden dan juga wakil presiden secara langsung, PILKADA juga dilakukan dengan prinsip yang sama, bahwa PILKADA sekarang dilakukan secara langsung oleh rakyat. Pengenalan calon-calon yang akan duduk menjadi kepala daerah mulia gencar dilakukan. Berkaca pada pengalaman dalam pemilu sebelumnya, ketakutan akan permasalahan dari penerapan azas demokrasi ini tetap sama, bahkan mungkin lebih kritis. Banyak masalah-masalah yang masih belum terpecahkan seperti masalah sistem yang belum jelas, kesimpang-siuran kewenangan dari KPU pusat dan KPU daerah dalam PILKADA, hasil review dari Mahkamah Konstitusi, sampai dengan masalah yang menggunakan dana terbesar yaitu logistik.
Logistik menjadi masalah besar dalam pemilu lalu, karena disamping dengan biayanya yang cukup besar, serta masalah distribusinya yang sering menjadi kendala di republik yang infra struktur perhubungannya bervariasi ini, kewenangan dari siapa yang mencetak kertas suara pun sering memicu masalah.
Tampaknya kita masih kurang belajar dari pengalaman sebelumnya, terlihat dari belum terlihatnya usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah maupun lembaga yang mempunyai wewenang dalam pemilihan umum ini untuk mengevaluasi hasil kerjanya dalam Pemilu sebelumnya.
Selain evaluasi terhadap pemilu terdahulu, masyarakat juga sering mempertanyakan kembali tentang manfaat dari pengunaan Teknologi Informasi dan sistem Informasi pemilihan umum yang telah dibuat oleh KPU terhadap pelaksanaan PILKADA. Sangat wajar sekali ditanyakan oleh masyarakat mengingat bahwa dana yang dikeluarkan oleh negara sangat besar sekali untuk pengembangannya. Sangat mubazir sekali kalau sistem yang sudah digembar gemborkan tersebut tidak ada manfaatnya bagi PILKADA sekarang. Pertanyaan kemudian apakah memang sistem yang dibuat KPU tersebut betu-betul dibutuhkan oleh masyarakat kita? Apakah sistem tersebut telah dibuat berdasarkan need assessment atas evaluasi Pemilu-Pemilu sebelumnya?
Kalau rakyat ditanya mungkin jawaban atas pertanyaan pertama diatas akan bervariasi, tetapi kalau ditunjukan dana yang telah dipergunakan oleh KPU untuk membuat sistem informasi pemungutan suara tersebut dengan manfaat yang didapatkan, maka jawabannya pasti akan satu, bahwa dana yang dipakai tersebut terlalu mahal dan tidak sesuai dengan manfaat yang didapatkan. Dana yang telah digunakan menjadi tidak efisien, karena pada dasarnya hanya sebagian masyarakat saja yang dapat mendapatkan informasi dan akses dari sistem tersebut. Hasil dari quick count yang dilakukan oleh beberapa media nasional, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan hasil KPU, serta masih digunakannya perhitungan manual sebagai hasil akhir untuk pengukuhan pemenang Pemilu, serta masalah pembobolan sistem oleh hacker akhirnya terakumulasi menjadi ketidakpercayaan publik atas sistem yang sudah dibuat tersebut.
Bagi Indonesia yang memiliki karakteristik masyarakat dan tingkat penghidupan yang beragam, adalah bijaksana apabila pembuatan suatu sistem yang menggunakan Teknologi Informasi untuk kepentingan Publik dilakukan melalui perencanaan yang matang, apalagi itu menyangkut penggunaan dana yang tidak sedikit. Hendaknya usaha dilakukan pada titik-titik dimana itu benar-benar memberikan manfaat yang terbesar, seperti bagaimana usaha untuk mengurangi biaya penyediaan logistik, bukan pada usaha mempercepat pengumuman hasil pemilu seperti sekarang. Penggunaan Teknologi Informasi harus dilakukan untuk mendapatkan nilai tambah bukan untuk membuat proses kerja yang sudah lama (dan kurang menyentuh kepentingan publik) menjadi lebih cepat . Teknologi Informasi harusnya ditempatkan pada peran sebagai pendobrak aturan lama dan menciptakan cara kerja yang baru yang lebih effisien dan effektif dan meningkatkan pelayanan kepada publik yang lebih luas.
Akan berbeda sekali penghargaan masyarakat kepada KPU, apabila, teknologi yang ditawarkan bisa dirasakan oleh masyarakat sekaligus juga mengurangi biaya tinggi dari sistem pemungutan suara. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara mengurangi penggunaan dan percetakan kertas suara dan kotak suara yang mengambil porsi terbesar dalam dana Pemungutan suara.
Ada beberapa kelemahan dari ketergantungan pemakaian kertas dalam pemilu kita. Selain memakan biaya besar, pengalaman membuktikan bahwa sangat rawan sekali kesalahan dengan mekanisme penggunaan kertas. Kesalahan dalam percetakan, sampai kesalahan pelimpatan kertas menyebabkan banyak sekali pemborosan dan kekacauan dalam pemilu lalu. Seharusnya dapat diciptakan suatu mekanisme yang dapat mengurangi ketergantungan penggunaan kertas dalam sistem pemungutan suara kita.
Sebetulnya, kalau KPU mau membuka mata dan mau berusaha, sudah banyak teknologi yang bisa dipergunakan untuk mengurangi masalah di atas. Tidak perlu dengan harus studi banding yang banyak menggunakan dana tapi cukup dengan menggunakan media Internet maka sudah akan didapat alternatif-alternatif tersebut. Pengalaman negara seperti India, yang memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dengan negara kita bisa menjadi pelajaran, bahwa teknologi tidak perlu mahal dan bisa menawakan solusi pada hal yang lebih penting.
Komite Pemilihan Umum India dalam Pemilu nya telah menggunakan alat yang disebut Electronic Voting Machine (EVM). Mesin tersebut sangat sederhana tetapi dapat diandalkan untuk melakukan perhitungan atas kandidat peserta Pemilu. Bentuk dari mesin tersebut cukup kecil dan dapat dipindah-pindahkan dengan cukup mudah dan mudah pula untuk dioperasikan. Bentuknya yang portable memungkinkan alat ini untuk beroperasi dengan hanya menggunakan baterai apabila listrik tidak tersedia, sehingga dapat dipergunakan untuk daerah terpencil yang belum memiliki fasiltas listrik sekalipun. Walaupun kecil, alat ini sudah terbukti bebas kesalahan (error-proof) dan juga tahan banting. Data tidak akan hilang walaupun baterai atau power nya dicabut dari alat tersebut. Para pemilih tidak akan bisa menggunakan hak nya lebih dari satu kali, karena kepada setiap pemilih dialokasikan satu kali pijitan atas tombol yang tersedia. Sehingga kekhawatiran dari petugas maupun pengawas bahwa si pemilih akan memilih lebih dari satu kandidat (yang menyebabkan suara menjadi tidak sah) tidak akan terjadi.
Kelebihan-kelebihan lain dari penggunaan system ini adalah: Memodernisasi Pemungutan suara; Mudah dioperasikan dan dapat di install dalam waktu yang tidak lama; Tidak akan ada suara yang tidak sah; Data tersimpan secara rahasia; Perhitungan suara menjadi cepat dan akurat (sehingga memungkinkan diumumkan pemenang di lokasi tersebut saat semua pemilih selesai);Dapat dipakai ulang, dengan hanya mengatur ulang mesin tersebut untuk dipergunakan pada pemungutan suara berikutnya; Dapat mengurangi biaya yang besar untuk pencetakkan, pentransportasian, dan penyimpanan kertas suara (pengadaan kotak-kotak suara).

Dengan melihat kelebihan tersebut dan kemungkinan untuk penerapannya di Indonesia, tidak ada salahnya teknologi yang ternyata sudah dilirik oleh negara sekaliber Amerika dalam sistem pemilihan umumnya dapat dilakukan pula di negara kita. Masyarakat tidak akan kesulitan menerapkan sistem tersebut karena sistem yang dipergunakan tidak jauh berbeda dengan sistem konvensional yang biasa kita pakai. Bahkan masyarakat akan terbantu dengan berkurangnya usaha yang harus mereka lakukan selama ini dalam pemungutan suara yaitu melipat kertas suara yang kadang-kadang ukurannya sangat besar, dan keharusan untuk memasukan kembali ke kotaknya. Yang paling penting adalah sistem ini akan bisa adaptif terhadap jumlah kandidat yang harus dipilih, serta yang terutama adalah kegunaannya yang bisa dipakai kembali.

Pengeluaran biaya-biaya pengadaan kertas-kertas dan kotak-kotak suara yang habis pakai akan diganti dengan pengadaan suatu sistem yang menggunakan teknologi sederhana dengan penggunaan listrik atau baterai yang dapat digunakan kembali untuk periode-periode pemilihan selanjutnya. Dengan memperhatikan prinsip langsung, umum, bebas, dan rahasia pada proses pemilu dan pilkada yang akan datang dan dimasa-masa kedepan, penggunaan Electronic Voting Machine (EVM) dapat menghindarkan masalah-masalah yang mungkin terjadi didalam proses penghitungan hasil suara. Manipulasi dapat dihindari, dan yang terpenting pula bahwa efisiensi dan efektivitas dapat tercapai.

Metode ini menjadi sangat efisien dan efektif apabila metode ini diperhitungkan tidak hanya digunakan untuk periode Pilkada Juni mendatang namun juga untuk setaip kali pemilu diadakan. Janganlah gengsi untuk meniru India, negara yang banyak penduduknya seperti kita tetapi sudah lebih melek teknologi informasinya.

Serang, 3 April 2005

Posted on September 10, 2008, in Tulisan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: